• Twitter
  • Twitter
  • Facebook
  • RSS

Selasa, 01 Oktober 2013

Juara II Utsawa Menghafal Sloka Terbanyak Anak-anak pada UDG XII Kota Mataram



--

Pesantian Bhaskara Gita Shanti

Semoga Semua Pikiran Yang Baik Datang Dari Segala Penjuru

Utsawa Dharma Gita XII Kabupaten Lombok Barat



--

Pesantian Bhaskara Gita Shanti

Semoga Semua Pikiran Yang Baik Datang Dari Segala Penjuru

Minggu, 25 Agustus 2013

KELUHURAN MANFAAT DANA PUNIA

Pustaka Hindu wrote:

 

KELUHURAN MANFAAT DANA PUNIA

Banyak dibahas dalam kitab suci kita, antara lain dalam :

 

Atharwa Weda III.15.6

Berdermalah untuk tujuan yang baik, dan jadikanlah kekayanmu bermanfaat. Kekayaan yang didermakan untuk tujuan luhur tidak pernah hilang. Tuhan Yang Maha Esa memberikan rejeki yang jauh lebih banyak kepada mereka yang mendermakan kekayaannya untuk kebaikan bersama.

 

Manawa Dharmasastra IV.26

Hendaknya tanpa jemu-jemunya berdana punia dengan penuh sradha dan bhakti yang diperoleh dengan cara dharma, ia akan memperoleh pahala yang setinggi-tinginya.

 

Atharwa Weda VI.81.1

Wahai umat manusia, bekerja keraslah kamu sekuat tenaga, usir jauh-jauh sifat-sifatmu yang membuat kamu melarat dan sakit. Hendaknya kekayaan yang kamu peroleh dengan kejujuran dapat bermanfaat bagi masyarakat, arahkanlah untuk perbuatan-perbuatan baik dan kesejahteraan masyarakat.

 

Atharwa Weda III.24.5

Wahai umat manusia, kumpulkanlah kekayaan dengan seratus tangan dan sumbangkanlah kekayaan itu dengan seribu tanganmu, dapatkanlah hasil yang penuh dari pekerjaan dan keahlianmu di dunia.

 

Reg Weda I.15.8

Hendaknya mereka memperoleh kekayaan dengan kejujuran, dan dapat memberikan kekayaan itu dengan kemurahan hati, mereka tentunya akan dihargai oleh masyarakat. Semogalah mereka tekun bekerja dan meyakini bekerja itu sebagai bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Reg Weda I.125.6

Tuhan Yang Maha Esa menurunkan anugrah kepada orang-orang yang pemurah, suka berdana punia yang dilandasi dengan ketulusan hati. Mereka memperoleh keabadian,rahmat-Nya kekayaan dan panjang usia.

 

Reg Weda V.34.7

Tuhan Yang Maha Esa tidak akan memberikan anugra kepada orang-orang yang memperoleh kekayaan dengan tidak jujur. Demikian pula yang tidak mendermakan sebagian miliknya kepada orang-orang miskin dan sangat memerlukan. Tuhan Yang Maha Kuasa akan mengambil kekayaan dari orang-orang yang tamak dan menganugrahkannya kepada orang-orang yang dermawan.

 

Om santih santih santih Om

(sumber Pustaka Hindu)

=========================================

Putu Shanti Purnawan

Account Representative

KPP Pratama Praya

Jalan Diponegoro No. 38, Praya 83511

Telepon (0370) 653344; Faksimile (0370) 655366;

Situs: http://www.pajak.go.id

Hp:081916611076

========================================

 



PENTING

Informasi yang disampaikan melalui e-mail ini hanya diperuntukkan bagi pihak penerima sebagaimana dimaksud pada tujuan e-mail ini saja. E-mail ini dapat berisi informasi atau hal-hal yang secara hukum bersifat rahasia. Segala bentuk kajian, penyampaian kembali, penyebarluasan, penyediaan untuk dapat diakses, dan/atau penggunaan lain atau tindakan sejenis atas informasi ini oleh pihak baik orang maupun badan selain dari pihak yang dimaksud pada tujuan e-mail ini adalah dilarang dan dapat diancam sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jika karena suatu kesalahan anda menerima informasi ini harap menghubungi Direktorat Jenderal Pajak c.q. Direktorat KITSDA dan segera menghapus e-mail ini beserta setiap salinan dan seluruh lampirannya.

INDRAWANGSA




INDRAWANGSA
--0/--0/0-0/-00 =12.

1.Mamwit narendratmaja ring tapowana,
Manganjali rryagraning indra parwata,
Tan wismerti sangkan ikang hayun teka,
Swabhawa sang sajjana rakwa mangkana.

Mapamit Ida Dewa Agung Putra saking alas patapan,
Raris ngaturang sembah marep kapucak gunung Indra Kila punika,
Nenten lali Ida ring pangkan karahayuane rawuh,
Swabhawan ida sang sadu wyakti sapunika.

2.Mangkat dateng tolih arum wulat nira,
Sinambaying camara sangkaring geger,
Panawanging merak panangis nikang alas,
Erang tininggal masaput saput hima.

Rawuh panangkannyane Ida mamargi, tolah tolih, manis cacingak Idane.
Kadi kahulapin oleh icamara saking munduke.
Jeritan nye imerak waluya ling ipun ihalas.
Rumasa kimud ipun katinggal , nuli masaputsaput ambubu

3.Lunghang lengit lampahira ngawetana,
Lawan sang Erawana Bajra Naryama,
Tan warnanen desa nikang katungkulan,
Apan leyep muksa sahinganing mulat.

Pamargin Idane sayan sawat, pamargin Idane nganginang.
Sareng Sang Eirawana, Sang Bajrana sane mautama.
Nenten sandang bawosang palemahan sane kahungkulin.
Sahantukan samar saru, ical sawates cacingak.

4.Bhawisyati meh datengeng suralaya,
Grahadi naksatra kabeh pada krama,
Tejo mayapurwa kadatwaning langit,
Pamuktyaning janma suddhira subrata.

Salantur ipun, hayat jaga rawuh Ida ring swargan.
Bintang teranggana miwah sane liyan liyanan, bintange sami pada masahsahan.
Mangredep ngagawokin, purine ring ambarane.
Makapikolih nyasang numadi sane lewihing babratan.

5.Taranggana ditya sasangka mandala,
Alit katonania sakeng swamanusa,
Ageng iwamangkana deni doh nika,
Katon sakeng madhya padang hulap-hulap.

Wawidangan bintang, surya bulan.
Alit pakantenannia saking manusa loka.
Ageng kawiyaktyannia punika, rihantuk doh ipune.
Pakanten saking mrecapada mangedepdep.

AJAHN BRAHMAVAMSO

Ajahn Brahmavamso 
lahir di London tahun 1951. Beliau memandang dirinya sebagai seorang Buddhis saat berusia 17 tahun lewat buku Agama Buddha yang dibacanya saat masih sekolah. Beliau tertarik pada Agama Buddha dan meditasi yang telah berkembang ketika belajar Teori Fisika di Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan tingkatannya dan belajar selama 1 tahun, Beliau melakukan perjalanan ke Thailand untuk menjadi bhikkhu. Beliau ditahbiskan di Bangkok saat berusia 23 tahun oleh kepala biara Wat Saket dan selanjutnya menghabiskan 9 tahun untuk belajar serta berlatih Tradisi Meditasi Hutan dari Y.M. Ajahn Chah. Pada tahun 1983, beliau diminta untuk membantu mendirikan Biara Hutan dekat Perth, Australia Barat. Ajahn Brahm sekarang adalah kepala biara Bodhinyana dan direktur kerohanian pada Perkumpulan Buddhis Australia Barat.
***
Yang Mulia Ajahn Brahmavamso Mahathera ( yang lebih dikenal dengan sebutan Ajahn Brahm ) dilahirkan dari pasangan Peter Betts di London, Inggris pada tanggal 7 Agustus 1951. Beliau berlatarbelakang dari masyarakat pekerja, dan mendapatkan beasiswa untuk belajar Teori Fisika di Universitas Cambridge pada akhir tahun 1960-an.
Setelah tamat dari Cambridge, beliau mengajar selama setahun di SMA, sebelum melakukan perjalanan ke Thailand untuk menjadi Bhikkhu dan berlatih dengan Y.M. Ajahn Chah Bodhinyana Mahathera. Ketika masih dalam tahun-tahun pertama sebagai bhikkhu junior, beliau diminta untuk menerjemahkan aturan-aturan kebhikkhuan (Vinaya) ke dalam bahasa Inggris yang kemudian menjadi dasar disiplin biara di dalam banyak biara Theravada di negara-negara barat.

Mengunjungi Australia
Yang Mulia Ajahn Brahm kemudian di undang ke Perth, Australia oleh komunitas Buddhis Australia Barat untuk membantu Ajahn Jagaro dalam tugas-tugas mengajar. Pada mulanya mereka berdua tinggal di dalam sebuah rumah tua di pinggiran kota, Perth Utara. Tetapi pada akhir tahun 1983 membeli 97 akre (393.000 m2) tanah di pedalaman perhutanan perbukitan Serpentine, Perth Selatan. Tanah tersebut kemudian menjadi biara Bodhinyana (mengambil nama guru mereka, Ajahn Chah Bodhinyana). Bodhinyana menjadi biara Buddhis pertama yang diresmikan di Hemisphere Selatan dan sekarang menjadi komunitas Bhikkhu Buddhis terbesar di Australia.
Yang Mulia Ajahn Brahmavamso merupakan kepala biara Bodhinyana saat ini dan pemimpin kerohanian perkumpulan Buddhis di Australia Barat. Biara Bodhinyana menyediakan sebuah lingkungan ideal yang sunyi dan sederhana yang sangat baik sekali untuk Sangha yang mempersembahkan hidup mereka terhadap praktek menanam kebajikan, meditasi dan kebijaksanaan.

Menjadi Seorang Pemimpin
Pada tahun 1994, Ajahn Jagaro mengambil sebuah cuti panjang dari Australia Barat dan melepas jubah setahun kemudian, secara tiba-tiba meninggalkan Ajahn Brahm untuk mengambil alih. Meskipun ada reservasi awal, Ajahn Brahm mengambil bagian dengan semangat dan dengan segera diundang untuk memberi pengajarannya yang humoris dan menyemangati di bagian lain di Australia dan di Asia Tenggara.
Beliau telah menjadi seorang pembicara pada konferensi Buddhis Internasional di Phnom Penh pada tahun 2002, dan pada Konferensi Global Buddhis. Beliau merupakan pemimpin konferensi keempat dari Konferensi Global Buddhis yang diadakan di Perth bulan Juni 2006. Tetapi penghargaan seperti ini tidak membuat Beliau berhenti mendedikasikan waktu dan perhatiannya terhadap orang yang sakit dan sekarat, yang di penjara atau menderita penyakit kanker, orang-orang yang berkeinginan mempelajari meditasi, dan tentu saja perkumpulan Sangha Bhikkhu di Bodhinyana.
Ajahn Brahm juga telah berpengaruh dalam membangun Biara Wanita Dhammasara di Gidgegannup di sebuah perbukitan Perth bagian timur laut untuk menjadi biara wanita yang independen secara keseluruhan, di mana orang-orang Sri Lanka berlatih. Biarawati Australia Ajahn Sr. Vayama saat ini menjadi kepala biara.

Pencapaian
Saat ini Ajahn Brahm adalah Kepala Biara Bodhinyana di Serpentine, Australia Barat. Direktur Kerohanian Perkumpulan Buddhis Australia Barat, Penasehat Kerohanian Perkumpulan Buddhis Victoria, Penasehat Kerohanian Perkumpulan Buddhis Australia Selatan, Pelindung kerohanian dari Persahabatan Buddhis di Singapura dan saat ini bekerjasama dengan bhikkhu dan biarawati dari seluruh tradisi Buddhis untuk memdirikan Perkumpulan Sangha Australia.
Pada Oktober 2004, Ajahn Brahm diberi penghargaan John Curtin Medal untuk visi, kepemimpinan dan pelayanannya terhadap komunitas Australia oleh Universitas Curtin. Ajahn Brahm juga menulis dua buku di antaranya Membuka Pintu Hati (Opening the Door of Your Heart) yang sebelumnya diterbitkan dengan judul "Who Ordered This Truckload of Dung?" dan Mindfulness, Bliss and Beyond : A meditator's Handbook.
Ratusan ceramah dari Ajahn Brahm saat ini telah tersedia secara akses gratis baik dalam format digital audio maupun video. Format ini telah diakses jutaan kali dalam setahun dan sekarang benar dikatakan bahwa hampir tidak ada orang, di manapun di dunia ini yang kelewatan sedetikpun, yang tidak mengakses dan mendengarkan ceramah dari Ajahn Brahm.

Buku-buku yang di tulis oleh Ajahn Brahmavamso
Opening The Door Of Your Heart / Who Ordered This Truckload Of Dung?
Setelah hampir 30 tahun sebagai bhikkhu, lahir dan mendapat pendidikan barat namun melatih diri dalam tradisi Bhikkhu hutan di Thailand, Ajahn Brahmavamso memiliki banyak kisah – kisah lucu dan menarik. Dalam kumpulan ajaran beliau, ada banyak sekali kisah – kisah kehidupan nyata yang dapat dijadikan petunjuk untuk memahami perhatian (mindfullness), kebijaksanaan, cinta dan belas kasih. Dalam setiap ceritanya, kejadian nyata merupakan sumbernya.
Di tahun 1983, Beliau mulai mendirikan vihara di Australia, di mana sekarang Beliau menetap. Dalam kisah beliau, menceritakan bahwa para bhikkhu sangat miskin dan apabila membutuhkan bangunan, beliau menggunakan pintu yang di ambil dari gerobak sampah, beliau belajar membuat tembok batubata. Beliau lebih banyak mengajarkan tentang filosofis buddhis kepada orang – orang barat dalam menjalani kehidupan mereka, membimbing grup meditasi di penjara Australia, dan mengunjungi orang-orang yang berduka maupun bersuka cita. Kisah – kisah yang menampilkan hal-hal yang lucu, pemikiran yang mendalam, dan pencerahan. Dengan penyampaian kata-kata yang bijak, kisah – kisah ini mengungkapkan kualitas bakti, kerendahan hati dan ketekunan. Kisah – kisah tersebut juga menggambarkan pencerahan, kebijaksanaan dan belas kasih dalam kehidupan sehari-hari. Kisah – kisah tentang harapan dan cinta, bagaimana memaafkan, bebas dari ketakutan, dan melewati masa-masa sulit sangat berhubungan dengan ajaran Buddha dan jalan menuju kebahagiaan.
Mindfulness, Bliss & Beyond

Sebuah buku yang sangat membantu dan berisi pengalaman – pengalaman tentang meditasi, yang ditulis oleh seorang bhikkhu dengan pengalaman yang luas dan mendalam. Ajahn Brahmavamso adalah salah satu generasi dari barat yang telah mempelajari, melatih dan ahli dalam ajaran Buddha yang begitu luas, dan sekarang menawarkan bimbingannya kepada orang-orang yang berlatih di dunia modern. Dalam buku "Mindfulness, Bliss and Beyond" akan ditemukan sejumlah ajaran untuk mengembangkan dan mendalami meditasi, sejumlah petunjuk untuk mencapai pemusatan pikiran dan memperoleh pengetahuan pandangan terang.

Ajahn Brahmavamso menawarkan pengertian yang bijak dan halus tentang mengubah kesulitan awal dan bagaimana mengubah pikiran menuju kegiuran, kebahagiaan, dan keseimbangan Jhana. Jadi, bagi Anda yang yang tertarik dalam melatih Jhana dan mendalami jalan Buddha dapat membaca buku ini dan mencoba untuk berlatih. Anda akan mendapatkan kata-kata bijak dan bahkan pengalaman yang ditunjukkan oleh beliau. Gunakan dan praktekkan nasihat-nasihat dari Ajahn Brahmavamso sebagaimana juga yang telah diajarkan oleh Buddha, namun janganlah menjadi terikat olehnya. Biarkan nasihat-nasihat tersebut membimbing Anda ke arah pembebasan dari segala keterikatan, dan memperoleh hati yang bebas. Semoga ajaran – ajaran ini membawa pengertian, manfaat dan berkah bagi semuanya.
-- 
( Dari Berbagai Sumber...http://www.kaskus.co.id)

Pesantian Bhaskara Gita Shanti

Semoga Semua Pikiran Yang Baik Datang Dari Segala Penjuru

Sabtu, 24 Agustus 2013

Peserta Lomba

UDG XII KOTA MATARAM BERLANGSUNG DI GEDUNG STAHN GDE PUDJA MATARAM

________________________________________
Putu S. Purnawan
Account Representative
Seksi Pengawasan dan Konsultasi I
KPP Pratama Sumbawa Besar
visit my new blog : http://theputubelog.blogspot.com
________________________________________

PENTING

Informasi yang disampaikan melalui e-mail ini hanya diperuntukkan bagi pihak penerima sebagaimana dimaksud pada tujuan e-mail ini saja. E-mail ini dapat berisi informasi atau hal-hal yang secara hukum bersifat rahasia. Segala bentuk kajian, penyampaian kembali, penyebarluasan, penyediaan untuk dapat diakses, dan/atau penggunaan lain atau tindakan sejenis atas informasi ini oleh pihak baik orang maupun badan selain dari pihak yang dimaksud pada tujuan e-mail ini adalah dilarang dan dapat diancam sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jika karena suatu kesalahan anda menerima informasi ini harap menghubungi Direktorat Jenderal Pajak c.q. Direktorat KITSDA dan segera menghapus e-mail ini beserta setiap salinan dan seluruh lampirannya.

UDG XII Kota Mataram 2013

Pada UDG XII Kota Mataram 2013 ini, Pesantian Bhaskara Gita Shanti berhasil memperoleh
3 medali emas,
4 medali perak dan
3 medali purunggu,
Astungkara.


________________________________________
Putu S. Purnawan
Account Representative
Seksi Pengawasan dan Konsultasi I
KPP Pratama Sumbawa Besar
visit my new blog : http://theputubelog.blogspot.com
________________________________________

PENTING

Informasi yang disampaikan melalui e-mail ini hanya diperuntukkan bagi pihak penerima sebagaimana dimaksud pada tujuan e-mail ini saja. E-mail ini dapat berisi informasi atau hal-hal yang secara hukum bersifat rahasia. Segala bentuk kajian, penyampaian kembali, penyebarluasan, penyediaan untuk dapat diakses, dan/atau penggunaan lain atau tindakan sejenis atas informasi ini oleh pihak baik orang maupun badan selain dari pihak yang dimaksud pada tujuan e-mail ini adalah dilarang dan dapat diancam sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jika karena suatu kesalahan anda menerima informasi ini harap menghubungi Direktorat Jenderal Pajak c.q. Direktorat KITSDA dan segera menghapus e-mail ini beserta setiap salinan dan seluruh lampirannya.

Pura Parama Ganga Sumawa

________________________________________
Putu S. Purnawan
Account Representative
Seksi Pengawasan dan Konsultasi I
KPP Pratama Sumbawa Besar
visit my new blog : http://theputubelog.blogspot.com
________________________________________

PENTING

Informasi yang disampaikan melalui e-mail ini hanya diperuntukkan bagi pihak penerima sebagaimana dimaksud pada tujuan e-mail ini saja. E-mail ini dapat berisi informasi atau hal-hal yang secara hukum bersifat rahasia. Segala bentuk kajian, penyampaian kembali, penyebarluasan, penyediaan untuk dapat diakses, dan/atau penggunaan lain atau tindakan sejenis atas informasi ini oleh pihak baik orang maupun badan selain dari pihak yang dimaksud pada tujuan e-mail ini adalah dilarang dan dapat diancam sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jika karena suatu kesalahan anda menerima informasi ini harap menghubungi Direktorat Jenderal Pajak c.q. Direktorat KITSDA dan segera menghapus e-mail ini beserta setiap salinan dan seluruh lampirannya.

Kamis, 22 Maret 2012

Selamat Hari Raya Nyepi




Kamis, 19 Mei 2011

PURI DAMAR SHASHANGKA: DOWNLOAD EBOOK SERAT GATHOLOCO

PURI DAMAR SHASHANGKA: DOWNLOAD EBOOK SERAT GATHOLOCO: "Sêrat Gatholoco Bagian1 - 4 Sêrat Gatholoco Bagian 5 - 8 Sêrat Gatholoco Bagian 9-12 Sêrat Gatholoco Bagian 13..."

Kamis, 06 Januari 2011

Keagungan Sapi (The Srimad Bhagavad-Gita)


dhenunam asmi kamadhuk
Di antara sapi Aku adalah sapi yang dapat memenuhi semua keinginan.



Dalam ayat ini Krishna menunjukkan bahwa di antara sapi Dia adalah diwujudkan sebagai makna kamadhuk kamadhenu aslinya ingin memenuhi sapi dikenal sebagai sapi surabhi. Hanya siapa dan apa sapi surabhi dan bagaimana surabhi seperti sapi mencapai posisi tinggi dan dimuliakan bahwa mereka mampu mewakili sebagian dari energi dari Tuhan Krishna tertinggi akan terungkap dalam informasi berikut diberikan dalam Parva Anusasana dari Mahabharata oleh Krishna Dvaipayana Byasa.


Sapi surabhi turun dari dunia spiritual dan dimanifestasikan dirinya sendiri dalam lingkup surgawi dari aroma nektar surgawi untuk kepentingan semua makhluk yang diciptakan. Keturunan langsung dari sapi surabhi adalah sapi suci dari benua India yang secara unik membedakan sama dengan surabhi oleh punuk indah di punggung mereka dan lipatan sangat lembut kulit di bawah leher mereka. Karena semua sapi yang ada di dunia saat ini adalah keturunan faktual dari sapi suci India mereka semua juga kudus dan harus selalu dirawat dengan penuh kasih dan dilindungi dengan harga tertinggi dan hormat terbesar. Salah satu tidak boleh menyebabkan kerusakan pada sapi dengan cara apapun bahkan dalam mimpi dan satu tidak boleh pernah berpikir makan daging sapi karena tidak ada tindakan lebih berdosa dalam semua ciptaan kemudian sapi membunuh.


Sapi adalah ibu dari semua makhluk. Sapi sesungguhnya ibu dari 33 crores dari demigods yang administrate penciptaan dalam keberadaan materi di seluruh alam semesta. Sapi adalah dewi para dewa dan perlindungan dari auspiciousness semua. Sapi melimpahkan setiap jenis kebahagiaan dan untuk alasan ini mereka selalu adalah worshippable. Sapi adalah dukungan dari seluruh dunia untuk oleh susu mereka memelihara makhluk terrestrials dan dengan ghee mereka ditawarkan dalam pengorbanan mereka memelihara denziens dari alam surgawi. unggul untuk sapi ada.


Seekor sapi tidak boleh dimiliki oleh orang yang adalah pembunuh sapi atau penjual untuk pembunuh sapi, oleh orang yang tidak benar, oleh orang yang berdosa, oleh orang yang tulus dalam berbicara, dan oleh orang yang berada di luar budaya Veda tidak harus sapi pernah diberikan kepada orang seperti ini. Hadiah sapi harus dilakukan setelah memastikan dan menentukan kualifikasi penerima. Sapi tidak boleh diberikan kepada mereka yang tempat tinggal mereka akan menderita api atau matahari. Sapi harus selalu diberikan disertai dengan betis mereka. Mereka sapi yang telah diselamatkan dari situasi tertekan atau telah diterima dari petani yang rendah hati tidak mampu untuk terus menjaga mereka benar dianggap paling menguntungkan.


Satu pernah harus menunjukkan disrepect untuk sapi dengan cara apapun tidak harus satu merasa jijik terhadap urin dan kotoran sapi karena hal-hal ini juga murni. Ketika sapi merumput atau berbaring santai satu tidak boleh mengganggu atau mengganggu mereka dengan cara apapun. Sapi tidak boleh dibunuh di setiap jenis pengorbanan atau dibantai dengan cara apapun untuk makanan sebagai pembunuhan sapi merupakan yang paling keji dari semua dosa yang ada.


Sapi adalah terpenting dari semua makhluk di seluruh dunia. Ini adalah dari sapi yang berarti untuk mempertahankan dunia telah ditetapkan. Sapi yang menguntungkan dan sakral dan bequeathers dari segala nikmat. Sapi manfaat manusia dengan susu, yoghurt, mentega keju, dan ghee. Veda menyatakan bahwa susu sapi adalah setara dengan nektar ambrosial dan bahwa ghee berasal dari susu sapi adalah yang terbaik dari semua libations dituangkan ke api suci brahmana.


Sapi dari berbagai jenis dan warna yang beragam selalu worshippable. Mereka adalah terpenting dari semua makhluk yang ada di seluruh ciptaan. Pagi dan malam yang satu harus menundukkan kepala dalam hormat untuk sapi. Salah satu tidak boleh menunjukkan mengabaikan untuk sapi dengan cara apapun tetapi harus selalu menunjukkan mereka hormat. Ketika seseorang terbangun di pagi hari kita harus selalu ingat sapi. Sebelum jatuh ke tidur di malam hari kita harus selalu ingat sapi. Sapi selalu menguntungkan. Sapi juga harum. Aroma indah dari agallochum amytis emantes dari luar tubuh suci mereka.


Sapi adalah perlindungan besar dari semua makhluk. Sapi merupakan sumber terbesar dari berkat bagi semua makhluk. Sapi adalah masa lalu. Sapi adalah masa depan. Sapi adalah sumber evolusi dan pertumbuhan kekal. Sapi adalah akar kemakmuran. Apapun yang diberikan kepada sapi selalu menghasilkan nasib yang baik dan tidak pernah sia-sia. Hal ini semata-mata dan secara eksklusif dari ghee sapi bahwa ritual sakral yang ditentukan dan berwenang dalam Veda diberdayakan dan dapat dilakukan. Tanpa kehadiran sapi ghee tidak ada possibiity melaksanakan ritual sakral yang akan memuaskan 33 juta demigods yang bertanggung jawab untuk manajemen universal. Tidak akan Kepribadian Agung Ketuhanan, Krishna senang dan puas. Ghee eksklusif hanya berasal dari sapi dari siapa persembahan aliran susu dan produk susu. Jadi sapi sesungguhnya menetapkan kemurnian dari semua ritual sakral dan merupakan inti dari melakukan semua kegiatan suci menjadi sumber dari kegiatan sakral.


Sapi merupakan tindakan suci sendiri dan tanpa sapi tidak akan ada kinerja dari setiap tindakan suci. Ini adalah posisi yang murni, luhur dan sangat dimuliakan dan pra-Keunggulan sapi di atas semua makhluk di seluruh dunia. Salah satu yang mengetahui keunggulan-pra sapi dan layanan membuat sapi tanpa pamrih kepada semua makhluk dan tidak melindungi mereka sayang adalah orang berdosa dan pelaku dan tujuan mereka sudah tentu neraka. Sapi sama dengan sinar matahari yang berjalan melalui alam semesta memberikan cahaya, kehangatan dan makanan.


Dalam yugas sebelumnya perintah Veda diberikan jiyaite pare mare Prani tabe yadi veda-purane sakit ajna vane Hena yang berarti dalam tulisan suci Veda dikenal sebagai Purana ada perintah yang menyatakan bahwa seseorang dapat mengambil kehidupan makhluk hidup hanya jika mereka mampu menghidupkan kembali itu kembali hidup lagi oleh nyanyian mantra Veda. Tapi kami menemukan bahwa perintah ini telah berakhir pada usia todays dari yuga kali oleh Purana Brahma-Vaivarta dimana dinyatakan bahwa di era sekarang kali yuga itu dilarang untuk membunuh sapi dalam keadaan apapun.


Sapi tersebut setara dengan ibu kita ketika susu ibu telah kering sapi memberikan susunya tanpa mementingkan diri sendiri untuk noursih dan menguatkan kita. Bagaimana bisa orang yang pernah mabuk susu sapi membenarkan pembunuhan dan makan seperti seorang ibu sebagai sapi suci. Satu harus pernah bahkan dalam pikiran seseorang lakukan cedera pada sapi atau pernah memikirkan merugikan sapi serta sapi. Orang harus menampilkan semua hormat dan kasih sayang untuk sapi dan penghormatan tulus harus ditawarkan kepada mereka semua tanpa reservasi.


Mereka yang gagal untuk memberikan penghormatan dan perlindungan sapi dan memilih untuk bodoh menentang dan whimsically mengabaikan perintah dari kitab suci Veda dengan menjual sapi untuk dipotong, dengan membunuh seekor sapi, dengan makan daging sapi dan oleh permittings pembantaian sapi akan semua membusuk di daerah tergelap neraka sebagai ribuan tahun karena ada rambut pada tubuh setiap sapi disembelih. Tidak ada penebusan bagi pembunuhan seekor sapi.

http://www.bhagavad-gita.org/Articles/holy-cow.html

Kamis, 18 November 2010

SASAK KIDUNG DALEM

Selasa, 05 Oktober 2010

Turun Taun

Rabu, 21 Juli 2010

Gayatri Mantra - Deva Premal

Rabu, 14 Juli 2010

Phalawakya Wajib Pasangan Remaja Putra



NASKAH PEMBACAAN PALAWAKYA WAJIB
PASANGAN REMAJA PUTRA
UTSAWA DHARMA GITA TINGKAT NASIONAL XI
(dikutip dari Teks Mosalaparwa)



1.I sanding sang Krsna Baladewa mojar ta sang Yuyudhāna ri sang Krtwarmā; “Sang Krtwarmā, tan sira ksatriyawiśesa, amatyani śatru sĕdĕng maturū, apan yaya wangke gati nika; milu pwa kita sahāya ning Aśwatthāmā umatī sang Pañca Kumāra sĕdĕng nira maturū; ya tika kalĕngĕn de sang watĕk Yadu, matangyan tan ahāyani ri kita”. Anmangkana wuwus sang Yuyudhāna, agirang sang Pradyumna; atĕhĕr manudingi sang Krtwarmā. Umalĕs sang Krtwarmā tumudingi sang Yuyudhāna.

Terjemahan :

Disamping sang Krsna dan Baladewa berkatalah sang Yuyudhana kepada sang Krtawarmā : “Sang Krtawarmā kamu bukanlah bersifat kestaria sejati sejati, karena membunuh musuh yang sedang tidur, karena tidak bedanya itu membunuh mayat namanya, kamu ikut seperti sang Aśwattāmā membunuh Sang Panca Kumara yang mereka sedang tidur, hal itu yang diingat oleh para yadu, maka mereka tidak mau berteman denganmu. Demikian perkataan sang Yuyudhana, sangat senang hatinya Sang Pradyumna, lalu menuding Sang Krtawarmā. Sang Krtawarmā balas menuding Sang Yuyudhana.


2.Irika ta karĕngwan ika wuwus sang Krtwarmā, sakroda ta sang Krsna, arddha rĕngu tinghal nira; humāsya ta sang Sātyaki, umatuturakĕn wrta nika Syamantaka, an sang Krtwarmā mulanya kalap de sang Satyabhāmā; anangis ta sang Satyabhāmā, kapituturĕn ri pati sang Satrājit, pinaribhawa de sang Śatadhanya ring kulĕm; tumon pwa ri galak sang Krtawarmā, mangadĕg ta sang Sātyaki.

Terjemahan :

Pada waktu itu terdengar perkataan Sang Krtawarmā, sangat marah Sang Krsna, pandangan beliau sangat bengis, tertawalah Sang Satyaki menceritakan riwayat Syamantaka, dimana awalnya Sang Krtawarmā diambil oleh Sang Satyabhāma. Menangislah Sang Satyabhāma teringat dengan kematian Sang Satrājit yang dibunuh oleh Sang Satadhanya pada malam hari. Melihat kemarahan Sang Krtawarmā berdirilah Sang Satyaki.


3.Inutus ta sang Stāyaki de sang Krsna, mwang sang Babhru, tan angga sang Sātyaki; tinungĕl ta gulū sang Krtwarmā, pĕgat tanpasāra, sang Yuyudhāna umati sang watĕk Yadu. Umangsĕh sang watĕk Wrsnyandhaka, manglawanakĕn sang Krtwarmā. Kapwāwĕrö sahananya, inuhutan de sang Krsna sahananya, tan angga apan kawesa deni sang Kalikĕla; sang Yuyudhāna ta sira pinugutan chistabhājana, mwang sang Satyaka, sakrodha sang Pradyumna mahanulung, ndatar kawĕnang kinabehan de sang Wrsnyandhakabhoja; ri wĕkasān pĕjah sang Yuyudhāna mwang bapa sang Satyaka.


Terjemahan :

Diutuslah Sang Satyaki oleh Sang Krsna dan Sang Babhru, tidak mau Sang Satyaki. Dipotonglah leher Sang Krtawarmā, putus tanpa daya. Sang Yuyudhanamembunuh golongan yadu. Mendesak maju golongan Wrsni dan Andhaka membela Sang Krtawarmā. Semuanya mabuk ditahan oleh Sang Krsna, tetapi tidak bisa karena mereka sudah dikuasai oleh Sang Kalikala. Sang Yuyudhana dipenggal dengan piring dan mangkuk sesajen bersama Sang Satyaka. Pradyumna dengan marah hendak menolong namun tidak berhasil karena kebanyakan orang-orang Wrsni, Andhaka dan golongan Bhoja. Akhirnya Sang Yuyudhana dan ayahnya Sang Satyaka meninggal.


4.Anmangkana sira kālih nihata, dinawut parungpung pinakasañjata nira; irika ta patĕmahan musalāyomaya ghora, pinakapamupuh nira ring sang Wrsnyandhakabhoja; pĕjah ta-ya tĕka sapuluh pisan, ndatan awĕdi mangkin silih sāmbut padāndawut parungpung; ya-ta matĕmahan musalyomaya, saka sambut denya sowang-sowang, tĕkeng dukut rondon yawat ika kasambut de nira juga matumahan mosalarupa; marok tĕkĕng prang wĕkasan, an tan wruh ri lawanya rowangnya.


Terjemahan :

Demikian kematian mereka berdua. Dicabutlah pohon gelagah sebagai senjatanya. Saat itu pula gelagah itu berubah menjadi senjata gada yang amat hebat, dipakai memukul orang Wrsni, Andhaka dan golongan Bhoja; sekalian sepuluh orang meninggal, namun mereka tidak takut saling menyambut masing-masing mencabut pohon gelagah. Semua gelagah itu berubah menjadi senjata gada yang hebat, saling serang mereka semuanya. Sampai-sampai rumput dengan daunnya setiap yang diambil berubah menjadi senjata gada. Akhirnya keadaan menjadi perang yang kacau, tidak dapat mengenal yang mana kawan yang mana lawan.

5.Katon ta sang Baladewa sumande wit ning kayu, magawe yogadhārana anmangkana lwir ni sang Baladewa; harohara ta sang bhatara Krsna, matangyan’n kon i sang Dāruki, umundangan sang Arjuna, śīghra-śīghra; lunghā ta sang Dāruki, kinwan ira ta sang Babhru, sira rumaksā stri nira; ryyangkĕn lumaksa sang Babhru pinupuh ta sira dening lubdhaka, makasañjata musala, mati ta sira, tuminghal ta śri bhatara Krsna, mwang manastapa ta sira.

Terjemahan :

Terlihatlah Sang Baladewa bersandar dipohon kayu melaksanakan yoga, demikianlah keadaan Sang Basudewa. Sang Krsna merasa cemas karena itu beliau menyuruh Sang Daruki memamnggil Sang Arjuna. Dengan segera Sang Daruki pergi, disuruhnya Sang Babhru menjaga istrinya. Ketika Sang Babhru akan berangkat, dia dipukul oleh seorang pemburu dengan senjata gada, akhirnya dia meninggal. Sang Krsna, sangat sedihlah hatinya.

6.Matĕrakĕn ta strī nira muliha sang Madhusūdana, kapanggih ta mahāraja Basudewa, inarpanākĕn ta stri nira sodhaśahasra sakwehnya; atĕhĕr sira manĕmbah musap suku nirang bapa; “Bapa pahalba tājñāna rahadyan sanghulun; sāmpun hilang tikang watĕk Yadu, katĕkan sang brāhmanaśapa, ndatan kawenang pinakanghulun mangher, uttama nikang kabeh, matangyan pamwit pinakanghulun masusupa ning alas; ikang strī pinakanghulun kabeh kārya raksān de rahdyan sanghulun, yapwan tĕka sang Arjuna, irika ta yenarpanākna, mwang ikang Yadu śesa ning pejah”.

Terjemahan :

Beliau mengantarkan para istrinya kembali ke istana Sang Madhusūdana, dijumpailah Maharaja Basudewa, diserahkanlah istrinya 16.000 orang banyaknya lalu beliau menyembah mengusap kaki ayahnya : “Ayah tenangkanlah pikiran ayah, semua bangsa yadu sudah habis, akibat kutukan para pendeta, tidak bisa hamba tinggal , sangat penting semuanya, oleh karena itu hamba mohon diri untuk pergi kehutan. Adapun istri hamba semuanya tolong tuanku menjaganya, apabila Sang Arjuna telah datang maka serahkanlah mereka beserta para yadu sisa dari yang meninggal.

7.Mangkana ling bhatara Krsnānĕhĕr lungha ta sira, makrak tikang strī kabeh makusah, kapati sang Rukminī, mwang sang Jāmbawatī; mahāraja sang Basudewa kawuntwan ing gulū mwah ta de sang Krsna, mareng Prabhāsatīrtha; katon ta wangkay nikang Wrsnyandhaka, gulingan nirawaśesa, matutur ta sira ri manastapa suka sang Gāndhārī, mangke kari sira tumon kulawarga nira pĕjah tarpaśesa; katon ta sang Baladewa sumande wit ning kayu, magawe yogadhārana, umijil ta ng nāga sakeng tutuk nira, aputih warnanya, sinungsung ring nāga kabeh, Taksaka, Kumuda, Pundarīka, Hrāda, Durmukha, Prawrddhi.

Terjemahan :

Demikian perkataan Sang Krsna lalu beliau pergi, menjeritlah para istri beliau sangat cemas, lebih-lebih Sang Jambawati dan Sang Rukmini. Raja Basudewa dipeluk lehernya oleh Sang Krsna yang pergi ke Prabhāsatirtha. Terlihatlah mayat para Wrsni dan Andhaka bergelimpangan tanpa sisa, teringatlah beliau suka dukanya dengan Sang Gandhari, sekarang hanya melihat keluarganya yang mati tanpa sisa. Terlihat Sang Baladewa bersandar dipohon kayu, beryoga dan keluarlah naga dari mulutnya berwarna putih disongsong oleh para naga semua seperti Taksaka, Kumuda, Pundarika. Hrāda, Durmukha, Prawrddhi.


8.Sang Baruna, manungsung ring pādyārghācamanīya, wĕkasan lunghā mulih ring pātala; manangis ta sirānĕhĕr manusup ring alas, maturū ring taru, magawe yogadhārana; kathañcit ta hana śri Jara ngaranya, anak mahārāja Basudewa; yatānusup ring alas mangusi mrga, ta wruh ri hilang sang watĕk Yadu; katon pwa suku bhatara Krsna denya, ya pinanahnya ta ya; matĕmahan ta sira muwah Wisnumūrti, caturbhujāpitāmbara; satinghalnya śri Jarā manangis ta yānĕhör mamĕkul suku nira Keśawa.

Terjemahan :

Sang Baruna menyambut dengan memberikan air pencuci kaki dan berkumur, akhirnya semua kembali kedunia naga. Sang Krsna menangis lalu menyusup kedalam hutan, tidur dipohon kayu sambil melakukan yoga. Kebetulan ada orang Śri Jara namanya putra Raja Basudewa, dia menelusuri hutan mencari binatang buruan. Dia tidak mengetahui tentang hancurnya keluarga yadu. Terlihatlah olehnya kaki Sang Krsna, lalu dipanahnya, akhirnya beliau menjelma menjadi Wisnu (Wisnumurti ) dengan empat lengan berbaju kuningan, setelah dilihat oleh Śri Jara menangislah dia memeluk kaki Sang Kesawa.

sesuai Buku Panduan Utsawa Dharma Gita Tingkat Propinsi NTB Tahun 2010

Rabu, 07 Juli 2010

Geguritan Ni Candrawati



PUPUH GINADA

1.Somaning Tolu kocapan,
Mangiket mangawe gending,
Manuju bulan wisangka,
Suklapaksane ping telu,
I rika ngawe carita,
Manah sedih,
Kidung anggen mamurnayang,

2.Wenten ne mangkin kocapan,
Prabu ring Kretanegari,
Madruwe putra saroro,
Sami pada ayu ayu,
Prabu wibuh maring jagat,
Suka lwih,
Magehang sastra utama.

3.Kawuwus putrane lanang,
Warnane tuhu apekik,
Maharan I Wiranata,
Budi alus kadi Wisnu,
Wicaksana sidi ngucap,
Darma jati,
Weruh ring sastra utama.

4.Arine istri mangayang,
Maharan Ni Candrawati,
Istri lwih ring pawongan,
Hyang Ratih ica tumurun,
Manurunin saking swargan,
Sangkan dadi,
Ayu lwih paripurna.

5.Warnane lwih sura sara,
Ayune tan pendah Ratih,
Raga lempung magelohan,
Akweh pada para ratu,
Nglamar Ida nenten arsa,
Pacang swami,
Kayun nyukla barahmacarya.

6.Sadina mangulik sastra,
Astiti ring Saraswati,
Miwah ring tutur utama,
Yoga brathane rinangsuk,
Paican sang muniwara,
Resi sidi,
Haran Begawan Utatya.

7.Sadina ngawanngun bratha,
Tumus nyunjung Siwa Ratri,
Nuju Purnama Kartika,
Punika rahina ayu,
Ni Candrawati akramas,
Tur masisig,
Mangrangsuk raja busana.

8.Raris munggah ring pasucian,
Malinggih ring bale gading,
Mayoga ngarcana Dewa,
Astiti eninging kayun,
Tedun Ida Sang Hyang Smara,
Anuronin,
Kajamah Ni Candrawatia.

9.Pirang dina lawasira,
Ni Candrawati ngrempini,
Dadi matemahan mobot,
Sampun machna ring susu,
Ni Candrawati kosekan,
Tur manangis,
Kudiang jani manyaruang.

10.Yan uning Ida Sang Nata,
Miwah Ibu Pramiswari,
Kenken baan manguningang,
Kaselek pacang umatur,
Dening awake nu bajang,
Labuan cerik,
Dereng manemu dikarma.

11.Wang jero pada uninga,
Ngrawos pada pakisi,
Kenken jani ban madaya,
Yang uning Ida Sang Prabu,
Nyai mbo pacang rusak,
Mangemasin,
Bakal dadi carun setra.

12.Sang Prabu mangkin kocapan,
Angrenga wreta sujati,
Saindik putrane mobot,
Kagiat Sang Prabu angrungu,
Gelis Ida maputusan,
Sampun jati,
Putrane nemu bencana.

13.Osek rawose ring Puri,
Yayah Ibu nira wingit,
Apan patitahing Dewa,
Anemu sengkala agung,
I Wiranata angucap,
Inggih aji,
Ni Candrawati rawuhang.

14. Sang Prabu raris ngandika,
Kaka patih ngaturin,
Anuli raris mamarga,
Ni Candrawati katemu,
Ki Patih raris anyumbah,
Duh mas manik,
I Aji mangutus tityang.

15.I Ratu katuran medal,
Nagkil ring Ida I Aji,
I Byang sampun irika,
Ni Candrawati saturut,
Anuli raris mamarga,
Sampun prapti,
Maring ajeng ibu yayah.

16.Malinggih Ida ring natar,
Sang Prabu ngandika aris,
Duh mas mirah atman ingwang,
Anak ingsun wawu rawuh,
Ni Candrawati anembah,
Inggih aji,
Anak Ratu wawu prapta.

17.Merana ya anak iwang,
Ingkene sareng malinggih,
Ni Candrawati mamindah,
Sang prameswari tumedun,
Manuntun Ni Candrawati,
Ngasih asih,
Eling ida tur matangisan.

18.Sang Prabu raris ngandika,
Ngalemesin saking aris,
Pajarang dewa pajarang,
Nene jani da mangapus,
Dumadak aptuh dikarma,
Ne buin mani,
Tityang madana kasukan.

19.Sang Ayu raris anembah,
Ujare angrenyuh ati,
Mandra mandra manis alon,
Manis nyunyur kadi madu,
Duh ampura Ratu tityang,
Mapan kawi,
Nuduh mangawe bencana.

20.Uduh ratu sesuhunan,
Tityang umatur sujati,
Krana tityang nemu kawon,
Ida Sang Hyang Smara tumurun
Anuronin saking swargan,
Mapan lwih,
Saksana munggwing sayana

21.Sang Prabu suka miarsa,
Lawan ibu prameswari,
I Wiranata angucap,
Beli twara da mangugu,
Data Dewane rawosang,
Anuronin,
Masa kurang maring swargan.

22.Yania nyai nawang Dewa,
Kma Dewane jani alih,
Apang bli nawang Dewa,
Ni Candrawati umatur,
Kaka Mantri Wiranata,
Kari beli,
Sumangsaya maring tityang.

23.Lawut manyaksiang raga,
Ring Sang Hyang Tridasa Saksi
Miwah Hyang Utasana,
Yang tityang mrasa ring wuwus,
Dumadak manemu ala,
Baya pati,
Anemu barunahatia.

24.Sang Prabu raris ngandika,
Candrawati ayua malih,
Nyai masasat ring Dewa,
Tuhu saja nyai sadu,
I Wiranata angucap,
Tityang kari,
Sumangsaya maring manah.

25.Puniki wenten cerita,
Ring Tantri tityang mamanggih,
Mawasta pun Cewangkara,
Tan pasaksi ya umatur,
Srengen Ida Sri Narendra,
Ngunus keris,
Sinempal pegal gulunia.

26.Puniki ne tulad tityang,
Ni Candrawati puniki,
Manah tityang pacang ngutang,
Ring alas Prambange agung,
Apan ala ngamatiang,
Anak beling,
Kenten kojare ring sastra.

27.Sane sedeng kakaonang,
Ne ayu sedeng puponin,
Alane maawak utang,
Ayune maraga Wisnu,
Wyadin tengahne sanunggal,
Mangda pelih,
Gelisang Ratu kawonang.

28.Sang Prabu tan kuasa ngucap,
Miwah Ibu prameswari,
Kadi tunjung tan pa toya,
Wedanane layu dudus,
Lesu rasa tanpa jiwa,
Lintang wingit,
Deres yeh aksine medal.

29.Swe tan kuasa ngucap,
Sang ayu umatur aris,
Kaka Mantri Wiranata,
Sampun Beli seken kayun,
Yan tan beli kari sweca,
Tityang pamit,
Kakutang tengahing alas.

30.Pisan iriki puputang,
Suka tityang ngemasin mati,
Ica beli ditu nyingak,
Watangan tityange Ratu,
Pinih wenten braya suka,
Mangurungin,
Mekelin tityang arimbag.

31.Punika pamitang tityang,
Kris sane sungklit beli,
Anggen mamuputang tityang,
Apang tityang gelis lampus,
Yan andih getihe medal,
Ala yukti,
Cirine ngletehin jagat.

32.Yan miik getihe medal,
Mangalub ngebekin gumi,
Miwah surya makalangan,
Wyakti tityang tuhu sadu,
Wyadin tanem tan pa toya,
Ening jati,
Ngungsi swargan sarin buana.

33.Wiranata semu wirang,
Pedih anggon manyawurin,
Beli twara liu rawos,
Jani majalan katemelung,
Raden Mantri raris budal,
Kaget prapti,
Ki Patih praya mamwatang,

34.Anuli raris anembah,
Pakulun sang Maha Dewi,
I Raka mangutus tityang,
Sampun Ratu nyalit kayun,
Pamidukane ring tityang,
Lwir sasarwi,
Langgia ring negara puspa.

35.Inggih tityang manguningang,
I Ratu katuran mangkin,
Mamarga kealase wayah,
Tityang mangiring I Ratu,
Ni Candrawati angucap,
Paman Patih,
Gelah twara lakar tulak.

36.Ni Candrawati anembah,
Ring sang Ibu Prameswari,
Wantah gantin tityang kawon,
Matilar ring yayah ibu,
Sampun mreta tityang pejah,
Tityang pamit,
Sapisan ring ibu yayah.

37.Ri wekas tityang nutugang,
Yan pinih tityang mawalik,
Tumitis manadi janma,
I rika tityang manawur,
Ne mangkin kocapang tityang,
Mangletehin,
Mati makutang ring alas.

38.Sang prameswari ngandika,
Tan pegatan ya manangis,
Candrawati anak inwang,
Lalis saja twah I Ratu,
Marerama kapin tityang,
Mangalahin,
Ajak tityang bareng pejah.

39.Pacang napi tyang karyang,
Apa ne tresnain dini,
Payu sedih mapangenan,
Ni Candrawati umatur,
Sampunang ratu sampunang,
Sedih kingkin,
Kari angen teken tityang.

40.Duh Ratu pisan puputang,
Tityang nunas bekel mati,
Wastra cerik ane petak,
Pacang anggen tityang kudung,
Kala tityang kapanesan,
Ne ring margi,
I rikia ring panangsaran.

41.Sang Parbu nangis sigsigan,
Nyesel raga ngasih asih,
Duh mas mirah atma jiwa,
Yan I Ratu sampun puput,
Alih ko tityang gelisang,
Ajak mati,
Tityang mangiring I Dewa.

42.Wereg rawose ring Puri,
Saisin Purine sedih,
Manangis masesambatan,
Nyen jani dini sungsung,
Manik Purine matinggal,
Minakadi,
Anggrek linjongnyane ilang.

43.Nengakena maring Puri,
Ni Candrawati mapamit,
Anuli raris mamarga,
Tan carita maring enu,
Kocapan Ida Sang Nata,
Nagsih asih,
Mwah ibu prameswara.

44.Kayun Ida ninggal Puri,
Miwah sadagingin Puri,
Pada sedih ya maguyang,
Pada mabudi manutug,
Ada sedih nigtig tangkah,
Kaget prapti,
I Wiranata kabangan.

45.Ngandika ulat prakata,
Prabu miwah Prameswari,
Elingang ratu elingang,
Atur tityang sane dumun,
Ni Candrawati kalintang,
Dosa pati,
Punapi juwa rawosang.

46.Ratu tityang nunas ica,
Tityang mapamit ne mangkin,
Matinggal ring dalem Pura,
Umeneng Ida Sang Prabu,
Raris budal ka sarenan,
Ngibeb kori,
Sareng kalih ring pamreman.

47.Wang jero sepi makejang,
Tong dadi sira mamunyi,
Ada sedih nyelsel awak,
Saruwang tong dadi saru,
Ada nguntul ngurik tanah,
Anggon tangkis,
Ada sedih madekesan.

48.Sampun sande surup surya,
Sepi seisining Puri,
Sedih magaleng yeh mata,
Tan kocap tengahing dalu,
Ni Candrawati kocapan,
Ane mangkin,
Sampun ngalintang ring marga.

49.Pamargine malon-alon,
Anake liyu mabalih,
Pada sedih mangatonang,
Warnane kalintang ayu,
Kadi bulane purnama,
Mangedanin,
Pantes maka sarin jagat.

50.Eluh mwani pada teka,
Mabalih lantas mangiring,
Anuli raris mamarga,
Ring alas wayah wus rawuh,
Ana waringin sanunggal,
Sira patih,
Raris matur saha sembah.

51.Irika raris mararyan,
Malinggih ring sor waringin,
Sampun sanja surup surya,
Kawulane raris matur,
Mirib Ida kapiwelasan,
Manyuluhin,
Kawulane ngawe pamreman.

52.Sampun lemah galang tanah,
Pamreman puput sami,
Ni Candrawati angucap,
Ujare amelas kayun,
Ngasih asih kapiwelasan,
Paman Patih,
Kema tulak ke Negara.

53.Ki Patih umatur nembah,
Uduh Dewa ening pasih,
Mapamit tityang matulak,
Tityang mangiring i Ratu,
Kalih panjake makejang,
Tityang pamit,
Malih tulak ka Negara.

54.Duh tityang manunas ica,
Pisan ngawula i riki,
Manatakin suka duka,
Wyadin tityang pacang puput,
Ni Candrawati angucap,
Mituturin,
Saking aris manulakang.

55.Ne ada kajoring sastra,
Sang Rama Dewa ne nguni,
Polih Ida ne kakutang,
Arine Sang Bratha tumut,
Masih kayun Ida tulak,
Kato Patih,
Tutur Ramane ingetang.

56.I Patih suka myarsa,
Miwah kawulane sami,
Raris ya mamargi budal,
Pajalane jempya jempyu,
Mandeg ya bilang atindak,
Sarwi nangis,
Pada sedih ya matulak.

57.Ni Candrawati kocapan,
Kari ring alase sedih,
Kalih wang jero sanunggal,
Bajang cerik lintang ayu,
Warnane lwir Nilotama,
Tan pa tanding,
Maaran Ni Pranacitra.

58.Sareng kalih di pamreman,
Masesambatan manangis,
Kene saja dadi janma,
Sangsara tityang nu idup,
Yaning wenten Bethara ica,
Pisan ambil,
Urip tityange gelisang.

Puput
“ Om Shanti Shanti Shanti Om “

Selasa, 20 April 2010

Kidung Pitra Yadnya




WAWU SEDA
(Sronca=Guru-Lagu tan Manggeh)

1.Tungtung nieng sunia sara prih,
Pengpeng tayania satata,
Tatasania yata pengpeng,
Prih rasania sunieng tungtung

2.Msat nirang manmata sunia marga
Prastista munggwing rata mega waha,
Ikang watek dewata pada ngiring doh
Haten manonton alawan maha rsi.

NANGININ LAYON
Girisa = 000/000/---/--0/000/0 = 16

1.Atha sedeng ira mantuk,
Sang sura laga ring hayun,
Tucapa aji wirātān,
Kāryācā nangisi weka,
Pinahajeng ira laywan,
Sang putra nala piniwa,
Pada litu hajeng anwam,
Lwir kandarpa pina telu.

2.Lalu laran niran asasambat,
Putranira pejah,
Laki bini sira sumungkem,
Ring putra lara kinusa,
Ginamel ira ginantikang,
Laywan lagi ginugah,
Inutus ira masabda kapwa
Ajara bibi aji.

3.Hana kaleheng ikang sih,
Yan tunggal kita pejaha,
Kita tiki katingalyus,
Ndyanung panglipura lara,
Syapa tiki palarengkwa,
Muktyang rajya sumiliha,
Ri hilangi tanayang kwadhung,
Ngwang yenaka kapejaha.

4.Nawuwus sira masasambat,
Karwa stray pengalume,
Inari wuwu tkap sang,
Pandawatmaja malara,
Pinahayu kinabehan sampun,
Purnna rinuruban,
Inayut i pajang lek,
Munggwing pancaka gineseng.

NYIRAMANG LAYON
Sronca=Guru-Lagu tan manggeh

1.Ya matangnya haretu haywa soka,
Purihing janma kita nira wasana,
Si hurip kadi mega lahru,
Rinarah ning pati pawakan samira.

2.Taya mulaniking haneng triloka,
Sakareng tawamwah mareng habawa,
Ndyata marma niking hurip katresnan,
Tuhu yawat krettaken katon hanitya.

Girisa = 000/000/---/--0/000/0 = 16
1.Bala ugu dina melah
manuju tanggal sasih,
Pan Brayut panamaya
asisig adyus akramas,
Sinalinan wastra petak
mamusti madayang batis,
Sampun puput maprayoga
Tan aswe ngemasin mati.

2.Ikang layon ginosongan
ne istrine tuhu satya,
De pamayun matingkah
Eteh-eteh parattra,
Toya hening pabersihan
Misi ganda burat wangi,
Lengis pudak sategal
Sumarganda merbuk harum

3.Pusuh menuhe utama,
Malem sampun macawisan,
Tekaning edon intaran,
Bebek wangi lengis kapur
Monmon mirah widusara
Waja meka panca datu
Don tuwung sampun masembar
Saikapa kalawan taluh.

4.Buku-buku panyolasan
Pagemelane salaka
Kawangene panyelawean,
Gegalenge satak seket
Sampun puput pabersihan
Winiletang dening kasa
Tikeh halus wijil jawa
Lante maulat penyalin.

5.Tatindihe sutra petak,
Rinuruban dening kasa,
Anak putunya ngabhakti,
Ibunya munggwing ayun,
Ginosongan layon,
Kidunge mewanti wanti,
Bedil kulkul tankarengwan,
Gong gambang gender lan angklung.

6.Sanggar tawange bantenin,
Sapalinggihan pabaktyan,
Bedog pipis lan sangsangan,
Salang mute salang pipis,
Sada luwih lan ukur mas,
Cacanden lan ulap ulap,
Angenan mapucuk manik,
Suci katur ring bhatara.

7.Pepek aturane genep,
Pisang kembang pisang jati,
Bebek katur ring Bhatara,
Pinda lan bubuh pirata,
Toya pangentase buatang,
Pangelebe mas leyaran,
Ulantangane sumandhi,
Sampun puput pabersihan

MAS KUMAMBANG
1.Dina ayu,
nyiramang layone mangkin
Tirtha ning suci pawitra
Tirtha panglukatan suci
Nyuciang sekancan mala

2.Sapta Sindhu,
Tirtha kalintang utami
Godawari miwah Gangga
Narmada mwah Saraswati
Nglebur sarwa papa klesa

3.Tirtha Srayu,
Sindhu Yamuna nyangkepin
Sapta Sindhu mautama
Tirtha pawitra lintang suci
Nglukat duka papa dosa

4.Mogo rahayu,
atma sarirane mangkin
Risampun masucian
Mawastra sami suci bersih
Mogi polih margi sorga

5.Uduh ratu,
Dewa dewi makasami
Suryaning mwah picayang
Margi becik atmane niki
Ampurayang dewa ampura

6.Brahma Wisnu,
Iswara Dewa Trimurti
Hyang Yama mwah Kingkara
Icen atma margi becik
Ko sorga utawi moksha

MEMARGI KESETRA

INDRAWANGSA
OO-/--O/O-O/-OO

1.Mamwit Narendratmaja ring tapowana,
Manganjali ryagraning indra parwata,
Tan wi smerti sangkan ikang hayun teka
Swabhawa sang sajjana rakwa mangkana

2.Mangkat dateng toliha rum wulat nira
Sinambaying camara sangkaring geger
Panawanging mrak panangis nikung alas,
Erang tininggal masaput saput hima.

3.Lunghang lengit lampahira ngawetana,
Lawan sang erawana bajra naryama
Tan warnanen desa nikang kaungkulan,
Apan leyep muksah sahinganing wulat.

4.Bhawisyati meh datengeng suralaya,
Graha dinaksatra kabeh pada krama,
Tejomaya purwa kadatwaning langit,
Pamuktyaning janma sudhira subrata.


5.Taranggana aditya sasangka mandala,
Alit katonanya sakeng swa manusa,
Ageng iwa mangkana deni doh nika,
Katon sakeng madyapada ngulap-ulap

6.Wintang lewih litya leyep tininggalan,
Ruhurnya sakeng sasiwimba karana,
Sadohning aditya sakeng niskara
Kadoh nikang bhumi sakeng diwakara

Swandewi
OOO/OOO/OOO/OO
1.Prihen temen dharma dumaranang sarat
Saraga sang sadu sireka tutana,
Tan artha tan kama pidonia tan yasa,
Ya sakti sang sajjana dharma raksaka,

2.Sakanikang rat kita yan wenang manut,
Manupa desa prihatah rumaksa ya,
Ksayanikang papa nahan prayojana,
Jana nuragadi twin kapangguha

3.Guha peteng tan mada maha kasmala,
Mala diulannya mageng maha wisa,
Wisata sang wruh rikanang jurang kali,
Kalinganing sastra suluh nikang prabha.

4.Prabhanikang jenyanan susila dharma weh
Maweh kasidhian pada mukti nirmala,
Mala millet tan pamantuk mangkin maring
Maring wisesang yasa sidha ta pasa.

5.Pasang putih tulya niking mala angliput,
Luput sirang sadhu yaken pasang tuju,
Tujung sukangke mamunuh taman mulih,
Mulih maring moksa lepas rikang mulih.

Aswalalita
OOO/O-O/-OO/O-O/-OO/O-O/-OO/OO = 23
1.Athari mulih nirang nakula salya rancakari sukskang hati tenyuh,
Umarih arih gupenira nareswari, prihatin osahange salume,
Swang agigu tan saka wedi nireng pati, sedenga sang narendra pejaha,
Hela hela tan wareg silihasih, dumeh drawa niluh nira nara wata.

2.Hatining akung rika tanalaran tumona rinaras niran milu lenggeng.
Putus sariris marang gana sumar tenyuh salahase gelung nira mure.
Anusupa paksaning kadang awas.
Wurung hali halin liring nira nalek.

3.Atharipejah nisang prawara somada tatanayan tekep sinisutha.
Mangkin aparek Jayadrata tekap sang Arjuna Wrekudara ngurek amuk.
Irika Sakorawa ngrebut angembuli saraware sang Arjuna nase.
Maka muka sang Dwijendra Krepa Salya Karna guru putra len kurukula.

4.Pada teka saha sang udanaken warastra para yoda ring kurukula.
Maka hulu sang Srutayuda pejah dinanda rigada Wrekodara nasa.
Mapulih ikang Srutayu lawan Ayutayu dirga ring ayu.
Ya ta dinuman warastra pada mati denira sang Arjuna pamanahi.

Sikarini
O--/---/OOO/OO-/-OO/OO = 16
1.Kurang sang wang nisreyasa,
Sira ta tan sidhi riwlah,
Ndatan puja tan yoga,
Rigenep ira nis bawa sada,
Luput saking bawa krama

2.Acintya numpak ring taya
Matapakan baskara wulan
Ika lwir sang lina dika sama
Lawan moksa karana
Nda sang sipta sing solah
Ya juga lamun nirmala sada
Prasida moring tanana
Kaluputing wahyu wibawa

NGENTAS LAYON

1.Omkara stuti ngurakang santun,
Krepu kanakane,
Mwang dupa dipa sumirit,
Watek gandarwa parum,
Kadi tinuduh denya harum,
Dadya sinahuran puspa,
Prasida amoring cupu,
Dadya lukat tan pamala,
Amuji rahaden bhima.

2.Sri Dewi Kunti mwang Dharmasunu,
Prasamata mangke,
Nararyyarjuna siraki,
Nakula Sadewa iku,
Samya musti sekar harum,
Wus siniratan maka rwa,
Dening Hyang amertha iku,
Sanjiwani ngaranya,
Puput kang yoga malukat.

MENDEM LAYON

Sronca=Guru-Lagu tan manggeh
1.Hanung putusen matapeng pratiwi,
Saksat pireng jroning garbha hibunta,
Ri huwus diwasa siram tu,
Kopakara pinra tisteng sadhaka.

2.Hanung sirang ngetwang muliha,
Pepengen swagatinta kottama,
Sangkanta huni yeka hulati,
Parama sunya suksma nira sraya.

ADRI
1.Widyadara presama tumurun,
Mapagin atmane,
Watek nawa sanga sami,
Tatabuhane gumuruh,
Suling rebab mwang celempung,
Preret warap sarine
Gong gambang angalun alun
Guntang kumarincing karengwan,
Curing munya kakelentingan.

2.Sinambut atmane sang putus,
Inunggahang mangke,
Ring jempanan tuhu ngrawit,
Mangring ring sutrane wungu,
Hararab bang ijo murub,
Kalasannya sutra jingga,
Asampir paparan halus,
Cinerancanging kamala,
Humurub kenyar komala.

3.Widyadara presama angrubung,
Amundut kabeh,
Pada papadon rumihin,
Tatabuhane anglangun,
Sopacara munggwing ahyun,
Angresing hati polahe,
Swaraning gumpit anglangun,
Curing rebab kapacia,
Guntang munya kaklentingan

SWANDEWI
1.Niking pasambat rikita dulur lumuh,
Cihnan asih ksamaken yadin salah,
Matangnya tan wruh ri asojara dama,
Amoga sigra teka lingku ring kita.

2.Manut sakarmanta kitastu rahayu,
Mulih ngusir sunya taman alengenu,
Luput rikang papa samukti nirmala,
Dateng alungguh rikanang sura laya.

NGESENG LAYON

SRONCA
1.Awtan denta pageh sira matapeng hapuy,
Teling juga tapan ta haywa lenga,
Hikid ngersalo kanku ri kita,
Hapan kita janma henget janmanta.

2.Ah haywa hakweh ujar wong rengenta,
Denta pnedta panta ring hyang apuy,
Hapanca ya kukus marganta purna,
Hangungsi hasalta duk dadi janma.

3.Sampun Hyang madan apjah msat hyang atma,
Sadyot ngrenti pinaka marganing pralina,
Nistresna tarya hinidep tayan kapanggih,
Swang lampwa ambeki rikawalya Bhawacakra.

AJI KEMBANG
1.Sang atapa sakti bhakti,
Astiti purwa sangkara,
Yan mati mahurip malih,
Wisesa sireng bhuwana,
Putih timur abang wetan,
Rahina tatas apadang
Tistining jaya kamatyan,
Mapageh ta samadira.

2.Ngulun ngadeg ring natar,
Kama jaya cinintanya,
Sang atunggu paraweyan,
Mawungu makarab karab,
Ilanganing dasa mala
Ametang gangga asuci,
Mapunggel rwaning wandira,
Pinaka len pernahira.

3.Yan sampun sira araup,
Isi nikang kundi manik,
Anut marga kita mulih,
Yan sira teka ring umah,
Tutug aken semadhinta
Sapangruwat sari ranta,
Isi nikang pengasep,
Kunda kumetug samidanya.

4.Wewangen dadi tembaga,
Rurube kang dadi emas,
Arenge kang dadi wesi,
Awune kang dadi mega,
Yeh iku dumadi hujan,
Tumiba ring merca pada
Yeh iku dadi amertha.

5.Kukuse Sang Hyang Iswara,
Lelatu Hyang Maheswara,
Wewangen Bhatara Brahma,
Kamaligi Bhatara Rudra,
Rurube Hyang Maha Dewa,
Awune Sang Hyang Sangkara,
Arenge Bhatara Wisnu,
Ambune Bhatara Sambu.

6.Ring kunda Bhatara Siwa,
Sarining kukus Hyang Guru,
Pangleburan Dasa Mala,
Lara roga winasa ya,
Purna jati sunirmala,
Luput maring papa karma,
Sadya manggih swarga luwih,
Satya brata mangarcana.

MAS KUMAMBANG
1.Om Yama
Surya putra yukti sakti
Om Hyang Mahakala
Pangemban atmane sami
Mogi ratu sweca lugra

2.Om Yama
Suryatenaya luhur suci
Om Yama digjaya
Atma niki pedek tangkil
Sweca ratu ngampurayang

3.Uduh ratu,
Dewa Hyang Yamadipati
Oh para Kingkara
Mangda sweca tresna asih
Ring atman semeton tityang

4.Siwa Rudra,
Mahadewa tuhu sakti
Nglebur sarwa papa
Picayang margine becik
Mogi atma polih moksha

5.Om Yama
Dewaning sang atmapati
Icen tatimbangan
Ssarwa karma sang dumadi
Ampura Dewa ampura

6.Om Yama
Ampurayang tityang mangkin
Tityang bhakti dahat
Tityang bhakti pedek tangkil
Om Yama Dewa Utama

NUDUK GALIH

SRONCA
1.Menget sireng ngaran wahu purnna,
Ping sad sira pwa beda nama,
Tunggal wahu purnna rwa camara,
Katri nimareng smasana,

2.Kacatur tinibaken wang lepas,
Kaping lima risdeng taginseng,
Ri pamkas sumala hing apuy,
Yeka kengetakna haywa lupa.

3.Nguni sireng gunung malihawan,
Sinung boga sira de sang sadaka,
Ning jnana misrayeka motama
Ngka pamkas kardi hasti Wedana.

4.Kapralina sira de kang mutusa,
Tinujwaken paran sang kanta nguni,
Margeng byomantara sunia malilang,
Tkeng hunggwanan musuka sada.

RIKALA NGEREKA

SRONCA
1.Mula janma sara kita manresthi,
Nawa winddhu tkaring nawa chandra,
Sapta masa dadi manusa gatra,
Nda kitekin sarapung pinaka atma.

2.Tulya kita sarati tan hana yatna,
Nipcala ngadeg irengganing angga,
Wruh ri duhka hayuning ratadiha,
Bhawa cakra tiklania ri naksa.

3.Panca tapa kapwa pada kabukti,
Wyapakeng sari srepa buta,
Nghing kiteng bhuwana karana langgeng,
Wruh ri lina wtuning dadi janma.

AJI KEMBANG
1.Ring purwa tunjunge putih,
Hyang Iswara Dewatanya,
Ring papusuhan pernahira,
Alinggih sira kalihan,
Pantesta kembange petak,
Ring tembe lamun dumadi,
Suka sugih tur rahayu,
Dana punya stiti bhakti.

2.Ring gneya tunjunge dadu,
Maheswara Dewatannya,
Ring papusuhan perhanira,
Alinggih sira kalihan,
Pantesta kembange dadu,
Ring tembe lamun dumadi,
Widagda sira ring niti,
Subhagya sireng bhuwana.

3.Ring daksina tunjunge mirah,
Sang Hyang Brahma Dewatanya,
Ring hati pernahira,
Alinggih sira kalihan,
Pantesta kembange mirah,
Ring tembe lamun dumadi,
Sampurna tur dirga yusa,
Pradnyan ring tatwa aji.

4.Ring neriti tunjunge jingga,
Sang Hyang Rudra Dewatannya,
Ring usus pernahira,
Alinggih sira kalihan,
Pantesta kembange jingga,
Ring tembe lamun dumadi,
Dharma sira tur susila,
Jana nuraga ring bhumi.

5.Ring pascima tunjunge jenar,
Maha Dewa Dewatannya,
Ring ungsilan pernahira,
Alinggih sira kalihan,
Pantesta kembange jenar,
Ring tembe lamun dumadi,
Tur sira sura ring rana,
Prajurit wetang aji.

6.Ring wayabya tunjunge wilis,
Hyang sangkara Dewatannya,
Ring limpa pernahira,
Alinggih sira kalihan,
Pantesta kembange wilis,
Ring tembe lamun dumadi,
Teleb ring tapa brata,
Gorawa satya ring budhi.

7.Ring utara tunjunge ireng,
Sang Hyang Wisnu Dewatannya,
Ring ampru pernahira,
Alinggih sira kalihan,
Pantesta tembange ireng,
Ring tembe lamun dumadi,
Sudra suci laksana,
Surupa lan sadhu sakti.

8.Ring ersanya tunjunge biru,
Sang Hyang Sambu Dewatannya,
Ring hineban pernahira,
Alinggih sira kalihan,
Pantesta kembange biru,
Ring tembe lamun dumadi,
Paripurna santa dharma,
Sida sidhi sihing warga.

9.Tengah tunjunge manca warna,
Sang Hyang Siwa Dewatannya,
Tumpuking hati pernahira,
Alinggih sira kalihan,
Pantesta kembange mancawarna,
Ring tembe lamun dumadi,
Gung prabawa sulaksana,
Satya brata tapa samadhi.

RIKALA MRUCUT GALIH
Sronca= Guru - Laghu tan Manggeh

Ah pitara hamwita ring gyanta ginseng,
Kaping ro ring wang sanak ta kabeh,
Kaping tri ring Hyangning smasana,
Yan wus mangkana henget gagacanta.

RIKALA NGANYUT

PUPUH ADRI
1.Sinambut atmane sang putus,
Inunggahan mangke,
Ring jampana tuwah ngrawit,
Marurub sutrane wungu,
Arahab bang ijo murub,
Kala sanya sutra jingga,
Asamir papatran halus,
Cinarang canging kambala,
Kumelap kenyar komala.

2.Widyadara prasama angrubung,
Amemunduk kabeh,
Pada papandon rimihin,
Tata bhuwana anglangun,
Sopacara munggwing hayun,
Angresing hati polahe,
Swaraning gumitit anglangun,
Curing rebab kacapya,
Guntang minu kaklentingan.

3.Sampun munggah sang atma,
Ring jampana mas’e
Aduluran pahe aris
Prawatej hyang maring ahyun
Gerebegan denya alaku
Kancit prapta maring swarga
Tumurun akweh mangrubung
Munggah maring meru wetan
Agagenteng mas komala.

PUPUH AJI KEMBANG
1.Ring wetan hana telaga
Rika ta hulun adyusa
Asalin raja busana
Anglebur awak tan porat
Hilanganing dasa mala
Sebel kandel ring sarira
Sakweh mala pataka
Kalebur ring tan hana.

2.Ring kidul hana telaga,
Rika ta hulun adyusa
Asalin raja busana
Anglebur awak tan porat
Hilanganing dasa mala
Sebel kandel ring sarira
Sakweh mala pataka
Kalebur ring tan hana.

3.Ring kulon hana telaga,
Rika ta hulun adyusa
Asalin raja busana
Anglebur awak tan porat
Hilanganing dasa mala
Sebel kandel ring sarira
Sakweh mala pataka
Kalebur ring tan hana.

4.Ring lor hana telaga,
Rika ta hulun adyusa
Asalin raja busana
Anglebur awak tan porat
Hilanganing dasa mala
Sebel kandel ring sarira
Sakweh mala pataka
Kalebur ring tan hana.

5.Ring madya hana telaga,
Rika ta hulun adyusa
Asalin raja busana
Anglebur awak tan porat
Hilanganing dasa mala
Sebel kandel ring sarira
Sakweh mala pataka
Kalebur ring tan hana.

6.Sampun ta sira abresih
Anambut raja busana
Binurating sarwa sari
Merbut harum gandaning wangi
Matur sira ring hyang guru
Sinung wara nugraha sira
Kasunganing mandi swara
Paripurna tur yowana.

RERAMON

A T M A
(ginanti)
1.Sang Hyang Atma ne kawuwus
Wenten ring sajroning urip
Ida dahat mautama
Kadi suksman Sang Hyang Widhi
Tan kahanan panca bhaya,

2.Emban antuk budhi luhur
Kahyun suci dahat hening
I tri kaya parisudha
Maka jalarane luwih
Anggen bekel Sang Hyang Atma
Mantuke ke jagat suci.

KARMA PHALA
( adri )
1.Maka bekel Sang Hyang Atma tuhu
Sarin pagawene
Ento sangu bekel mulih
Boya ja ipangan kinum
Miwah panganggene murub
Ento tuwah sangu dilemah
Makejang sing milu nutug
Disubane cening matinggal
Kasugihan kecag jumah.

2.Pianak somah nyama braya liyu
Ngateh kasemane
Pada mekelin baan eling
Disubane pada mantuk
Cening lawut pati entul
Tuwara tepuk baan margane
Angen angen ngelah liyu
Sane jati tan pa saja
Bas banget ban ngamomoang.

3.Duaning keto jalan jani ruruh
Dabdabang bekele
Ane utama kardinin
Kotaman bekel mantuk
Ngawe kasukan satuwuk
Da bas ngulah sekalane
Sekala niskala ruruh
Dasarin ban kanirmalan
Kadi ling ning Hyang Agama.

SAMSARA
(sinom)
1.Punarbhawa panumadian
Mula pakardin Hyang Widhi
Malarapan Karma Phala
Ne tuara dadi kalidin
Samsarane manumitis
Indriane sanget degul
Tan sengeh ring katatwan
Karuruban budhi paling
Tuara ngitung
Panes barane dilemah.

2.Jani cening jwa dabdabang
Apang tatas teken indik
Talin panugelan lekad
Kamoksane jati luwih
Awor ring Ida Hyang Widhi
Sepi sunia jagat luwung
Manggih kasukaan satata
Malingga ring genah suci
Terus tumus
Suka tan pawali duhka.

MOKSA
(sinom)
1.Yan sampun sida kamoksan
Tan pacang numadi malih
Tan kaiket punarbhawa
Dening sampun maraga suci
Suksmane jati luwih
Sampun rawuh ne katuju
Kasukane diniskala
Dahat langgeng kapuponin
Sawen ipun
Mamangguhang suka.

2.Yaning sampun pakayunan
Saking pituduh Hyang Widhi
Pacang manegdegang jagat
Sajroning jagate kali
Raris kautus numitis
Nabdabang mangda rahayu
Mangda krtha raharja
Sadaging jagate sami
Ne kawuwus
Awatara mautama

Senin, 19 April 2010

Phalawakia [Vid] : Sarasamuccaya, 184




1. I Gde Mardana Pembaca
2. I Wayan Budiarsa Penerjemah

B. Sarasamuccaya, 184 :
YADYAPIN AKĔDIKA IKANG DĀNA,
Biarpun sedikit pemberian itu,
NDĀN MANGĔNÉ WĔLKANG YA, AGÖNG PHALANIKA,
tetapi mengenai kehausan atau keinginan hati, besarlah pahalanya;
YADYAPIN AKWĔHA TUWI, MANGKÉ WĔLKANG TUWI, YAN
ANTUKNING ANYĀYA, NIŞPHALA IKA,
meskipun banyak tetapi menyebabkan semakin haus apalagi (pemberian) itu diperoleh dengan cara yang tidak layak atau tidak patut, tiada pahalanya itu;

KALINGANYA, TAN SI KWÉH, TAN SI KĔDIK, AMUHARA KWÉH KĔDIK NING DĀNAPHALA,
tegasnya bukan yang banyak atau bukan yang sedikit, menyebabkan banyak sedikitnya pahala pemberian itu,
KUNÉNG PARAMĀRTHANYA, NYĀYĀNYĀYA NING DĀNA JUGA.
melainkan pada hakekatnya tergantung dari layak atau tidaknya pemberian itu.